Selamat IDUL FITRI 1430 H

Rabu, 09 September 2009

Di dalam kita melakukan ibadah puasa harus dengan adab diantaranya, ketika kita berpuasa hendaklah jangan terlalu menyibukkan diri dengan dunia khususnya puasa Ramadhan bahkan kalau bisa kita kosongkan waktu khusus untuk ibadah kepada Allah Swt, dengan banyak-banyak menggingat kepadanya sebanyak yang kita mampu. Jangan kita menyibukkan diri dengan dunia kecuali yang harus kita lakukan karena tidak bisa ditinggalkan separti mencari nafkah buat keluarga. Bulan Ramadhan ini bulan yang sangat mulia diantara bulan-bulan yang lain.

Dan selain adab juga banyak sekali sunah-sunnah yang sebaiknya kita kerjakan dibulan ramadhan untuk menambah fadilah puasa kita, Salah satunya bersegerahlah untuk berbuka puasa kalau memang kita yaqin sudah masuk waktu magrib begitupun disunnah kan untuk mentakhirkan waktu sahur nya, dan usahakanlah berbuka dengan kurma itu sunnah Nabi Muhammad Saw, bahwasanya Nabi Muhammad Saw berbuka dengan kurma sebelum beliau melakukan ibadah sholat magrib.

Dan dianjurkan bagi semua ummat agar mereka dibulan yang mulia ini mengurangi makannya tujuanya agar mereka benar-benar merasakan lapar dan dahaga karena itu bisa mendidik jiwa manusia dan bisa menerangi hati.
Sebaliknya apa bila mereka banyak makan dibulan yang mulia ini maka mereka akan merasa berat dan malas untuk melakukan ibadah kepada Allah.

Jagalah mata, telinga, lisan kita dibulan yang mulia ini jangan rusak pahala puasa kita dengan melakukan sesuatu yang tidak di ridoi Allah Swt.

Perbanyaklah berbuat baik dibulan yang mulia ini bersedekah, saling membantu khususnya memberikan makan untuk orang berbuka puasa itu sangat besar sekali pahalanya,

Nabi Muhammad Saw berkata : siapa orang yang bersedekah untuk orang berbuka puasa walau cuma satu kurma atau satu teguk air maka Allah Swt akan memberikan pahala puasa yang kita berikan sedekah kepada nya tanpa di kurangi sedikit pun oleh Allah Ta’la.

Dan jangan tinggalkan sholat tarawih ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw untuk mensyiarkan dan menghidupkan malam-malam Ramadhan juga fadilah dan pahalanya sangat besar sekali
Juga perbanyaklah membaca Alquran dibulan yang mulia ini, karena semua amalan dibulan suci ramadhan dilipatgandakan pahalanya, banyak sekali rahmat Allah Swt dibulan ramadhan, kita sebagai hamba Allah Swt dan sebagai ummat Nabi Muhammad Saw harus bersyukur karena kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk menikmati indahnya fadilah dan keutamaan yang tiada terhingga dari Allah Swt dibulan yang suci ini, oleh karena itu kita tidak boleh lalai dan malas untuk beribadah dan selalu dengan ikhlas menghadirkan hati kita disetiap ibadah yang kita lakukan tidaklain semua itu hanya mengaharap ampunan dan ridonya Allah Swt.

Ya Allah berkahi kami dibulan yang indah yang penuh dengan rahmat dan maghfiroh darimu Ya Robbii.



Jumat, 14 Agustus 2009

Khutbah Nabi Muhammad SAW menyambut Ramadhan
Jumat, 14 Agustus 2009

عَنْ سَلْمَانَ ، قَالَ : خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ ، فَقَالَ : أَيُّهَا النَّاسُ ، قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، جَعَلَ اللَّهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً ، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا ، مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ ، وَمَنْ أَدَّى فِيهِ فَرِيضَةً ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ ، وَهُوَ شَهْرُي الصَّبْرِ ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ ، وَشَهْرٌ يَزْدَادُ فِيهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ ، مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِمًا كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ قَالُوا : لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفَطِّرُ الصَّائِمَ فَقَالَ : يُعْطِي اللَّهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى تَمْرَةٍ ، أَوْ شَرْبَةِ مَاءٍ ، أَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوكِهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ، وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ ، وَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ : خَصْلَتَيْنِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ ، وَخَصْلَتَيْنِ لا غِنًى بِكُمْ عَنْهُمَا ، فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ : فَشَهَادَةُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَتَسْتَغْفِرُونَهُ ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لا غِنًى بِكُمْ عَنْهَا : فَتُسْأَلُونَ اللَّهَ الْجَنَّةَ ، وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ ، وَمَنْ أَشْبَعَ فِيهِ صَائِمًا ، سَقَاهُ اللَّهُ مِنْ حَوْضِي شَرْبَةً لا يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ

Dari Salman Al Farisi r.a berkata: Rasûlullâh saw berkhutbah di Akhir bulan Sya'ban : "Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allâh swt telah menjadikan puasanya suatu fardu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’(sunnah).”


“Barangsiapa mendekatkan diri kepada
Allâh dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, maka sama dengan (pahala) orang yang menunaikan suatu fardu di dalam bulan yang lain.”

Ramadan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Allâh swt memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”


“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”


Para sahabat berkata, “Ya
Rasûlullâh, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasûlullâh saw , “Allâh swt memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau seteguk susu.”


Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya
Allâh mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”


“Oleh karena itu perbanyakkanlah yang empat perkara di bulan
Ramadan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain
Allâh swt dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya
Allâh swt memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Dalam hadits lain :

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوكِهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ، وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ

قلت ويأتي حديث في فضل لصوم في صوم التطوع (بغية الحارث , شعب الإيمان للبيهقي)

Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah-pen) niscaya Allâh mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

(Bughyah Al Kharits, As Syu'ab al Iman lil Baihaqi)

Selasa, 10 Februari 2009

Surat Imam Al-Ghazali Kepada Muridnya

Ilmu adalah cahaya. Demikian kata imam syafi’I dalam syairnya. Karena ilmu begitu penting, Rasulullah saw memerintahkan, “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahad.” Namun, ilmu saja tidak cukup.

Ilmu harus dimanfaatkan, dengan mengajarkan dan –yang terpenting- mengamalkannya. Imam Al-Ghazali, penulis kitab Ihya Ulumuddin, pernah mengirim surat kepada salah seorang muridnya. Melalui surat itu, Al-Ghazali ingin menyampaikan tentang pentingnya memadukan antara ilmu dan amal. Berikut petikannya.

***
Anakku…

Nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya. Karena, ia keluar dari mulut yang tidak biasa merasakan pahitnya nasihat. Sesunggunya siapa yang menerima ilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka pertanggungjawabannya akan lebih besar. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Orang yang paling berat azabnya pada hari kiamat kelak adalah orang berilmu (‘alim; ulama) yang tidak memanfaatkan ilmunya.”
Anakku…

Janganlah engkau termasuk orang yang bangkrut dalam beramal, dan kosong dari ketaatan yang sungguh-sungguh. Yakinlah, ilmu semata tak akan bermanfaat-tanpa mengamalkannya. Sebagaimana halnya orang yang memiliki sepuluh pedang Hindi; saat ia berada di padang pasir tiba-tiba seekor macan besar nan menakutkan menyerangnya, apakah pedang-pedang tersebut dapat membelanya dari serangan macan jika ia tidak menggunakannya?! Begitulah perumpamaan ilmu dan amal. Ilmu tak ada guna tanpa amal.
Anakku…

Sekalipun engkau belajar selama 100 tahun dan mengumpulkan 1000 kitab, kamu tidak akan mendapatkan rahmat Allah tanpa beramal.

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39)

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi [18]: 110)

Anakku…

Selama tidak beramal, engkau pun tidak akan mendapatkan pahala. Ali Karramallahu wajhahu berkata, “Siapa yang mengira dirinya akan sampai pada tujuan tanpa sungguh-sungguh, ia hanyalah berangan-angan. Angan-angan adalah barang dagangan milik orang-orang bodoh.
Al-Hasan Al-Basri rahimahullah berkata, “Meminta surga tanpa berbuat amal termasuk perbuatan dosa.”

Dalam sebuah khabar, Allah SWT berfirman, “Sungguh tak punya malu orang yang meminta surga tanpa berbuat amal.”

Rasulullah saw bersabda, “Orang cerdas ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya dan berbuat untuk setelah kematian. Dan orang bodoh ialah siapa yang memperturut hawa nafsunya dan selalu berangan-angan akan mendapatkan ampunan Allah.”
Anakku…

Hiduplah semaumu, karena pada hakikatnya engkau itu mayit. Cintailah sesukamu, karena pasti engkau akan meninggalkannya. Dan, lakukanlah amal karena pasti engkau akan diberi balasan.
Ilmu tanpa amal adalah gila. “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah [02]: 44).

Dan, amal tanpa ilmu adalah sia-sia. Keduanya harus dipadukan satu sama lain.
Ilmu semata tak akan menghindarkanmu dari maksiat hari ini, dan tidak pula dapat menyelamatkanmu dari siksa neraka di hari esok. Jika hari ini kamu tidak sungguh-sungguh beramal, maka pada hari kiamat kelak engkau akan berkata, “Kembalikanlah kami (ke dunia) agar dapat melakukan amal salih.” Namun, dijawab, “Hei kamu, bukankah kamu telah dari sana?!”
***

“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yasin [36]: 54)

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kepada kita ilmu yang berkah dan kemampuan untuk merealisasikan ilmu-ilmu yang telah Dia anugerahkan kepada kita. Amin…. (M. Yusuf Shandy- - -Lihat kitab Ma'allah karya Muhammad Al-Ghazali)

EMPAT ISTRI

Suatu ketika ada pedangang yang kaya raya, ia memiliki empat istri yang selalu setia menemaninya.

Dia mencintai istrinya yang keempat dan menganugrahinya harta & kesenangan yang banyak. Sebab dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik untuk istri keempatnya ini.

Pedagang itu juga mencintai istirinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini dan selalu memperkenalkan wanita ini kepada teman-temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.

Begitu juga dengan istri kedua, ia pun sangat menyayukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya melewati masa-masa yang sulit.

Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sangsuami. Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.

Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati, “Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.”

Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. “Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku?” Ia terdiam,“Tentu saja tidak..“, jawab istri keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi.

Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. “Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku? ” Istrinya menjawab, “Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati.” Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.

Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku?” Sang istri menjawab pelan. “Maafkan aku,” ujarnya “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja.. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu.” Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.

Tiba-tiba terdengar sebuah suara, “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu.” Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”

Sahabtaku, sesungguhnya kita punya empat orang istri dalam hidup ini. Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.

Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari.
Diposkan oleh jifasmart di 04:12
Label: Empat Istri

Senin, 29 Desember 2008

Puasa Muharram




by Ustadz. Yusuf Mansyur

Aslinya, puasa Muharram itu tanggal 10 ('Asyura). Ada Yahudi yang berpuasa, ditanya Rasul, "Mengapa engkau berpuasa pada hari ini?". "Pada hari ini Musa diselamatkan oleh Allah dari Fir'aun...", dan Yahudi itu menyebut lagi beberapa peristiwa penting di bulan Muharram. "Maka kami berpuasa untuk mensyukurinya".

Rasululllah lalu bersabda, "Kalau begitu, kami lebih berhak untuk berpuasa...". Dan untuk membedakan dengan Yahudi, Rasulullah bersabda lagi, "Andai aku masih hidup tahun depan, maka aku akan berpuasa juga di tanggall 9 nya (Tasu'ah)". Sesiapa yang tidak bisa di tanggal 9 nya, maka gantikan di tanggal 11 nya.

'Ulama-ulama salaf banyak juga yang kemudian berpuasa sebulan penuh malahan untuk menghormati Muharram, dan inipun menjadi syari'atnya. Sesiapa yg berdoa di saat puasa, maka ia akan dikabulkan Allah tanpa hijab. Apalagi ada janji Allah lewat Rasul-Nya, sesiapa yg berpuasa 1 hari di bulan ini, maka Allah akan mengampuni dosanya selama tahun yang terlewati, dan 1 hari puasa di Muharram setara dengan 30hr berpuasa.

SELAMAT TAHUN BARU 1430H. Semoga Allah meridhai ikhtiar kita di tahun ini, memberikan keselamatan, memberikan ampunan, menambah iman, islam dan ketakwaan kita, menambah amal saleh dan mengistiqamahkan ibadah kita.


(Ust.Yusuf Mansur.)

Jumat, 26 Desember 2008

Kalaulah Bukan Karena Allah Menutupi Aib-Aib Kita



Alhamdulillah, wash shalaatu wassalaamu ‘ala nabiyyinaa Muhammad,

wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa man tabi’ahum bi ihsaan, wa ba’d.

Pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka.

Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.”

Maka berangkatlah Musa ‘alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang.

Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu,

haus dan lapar.

Nabi Musa berdoa, Ilaahi! Asqinaa ghaitsak…. Wansyur ‘alaina rahmatak… warhamnaa bil athfaal ar rudhdha’… wal bahaaim ar rutta’… wal masyaayikh ar rukka’…..”

Setelah itu langit tetap saja terang benderang… matahari pun bersinar makin kemilau… (maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul).

Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Ilaahi … asqinaa….”

Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian…

Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… keluarlah ke hadapan kami…. karena engkaulah hujan tak kunjung turun…”

Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri… maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia… saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud…..

Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku… Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”

Maka hatinya pun gundah gulana… air matanya pun menetes….. menyesali perbuatan maksiatnya… sambil berkata lirih, “Ya Allah… Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun… selama itu pula Engkau menutupi ‘aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku…”

Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan… semakin lama semakin tebal menghitam… dan akhirnya turunlah hujan.

Musa pun keheranan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.”

Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”

Musa berkata, “Ya Allah… Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.”

Allah berfirman, Ya Musa, Aku tidak membuka ‘aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!”

(Kisah ini dikutip dari buku berjudul “Fii Bathni al-Huut” oleh Syaikh DR. Muhammad Al ‘Ariifi, hal. 42)

...........Ya Robbi....begitu banyak aib-aib hamba, dan dengan kebesaranMu sajalah...Engkau tutupi semuanya..

"Robbana zolamna anfusana waillamtaghfirlana watarhamna lana kunanna minal khosyiriin"

(danmadhann)

Renungan Menyongsong Tahun Baru Hijriah 1430






Waktu yang sekarang sedang kita jalani berkaitan erat dengan masa lalu yang telah kita lewati.


Dan Masa yang akan datang bergantung dengan apa yang sedang kita kerjakan pada saat ini.

Tahun 1430 H datang menyongsong....Tahun 1429 H telah beranjak meninggalkan kita...

bagaimanakah hidup dan kehidupan kita di Tahun 1429 H?....

Bagaimanakah amal ibadah kita di tahun kemarin ?

Akankah 1430 H akan jadi lebih baik lagi bagi hidup dan kehidupan kita ?

besar manakah ketaatan dengan kemaksiatan ?

besar manakah amal ibadah kita dengan
pembangkangan terhadapNya ?


Ya Robbi....Yang Maha Mendengar, tersirat
maupun tersurat, yang zohir ataupun yang batin...

Bismillaahirrahmaanirraahiim,
wa shollalloohu'alaa sayyididinaa muhammaadin

wa'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama,

Alloohumma maa'amiltu fii hadzihis sanati
mimmaa nahaitanii'anhu falam atub minhu

wa lam tardhohu wa lam tansahu wa hamiltu
'alayya ba'da qudrotika 'uquubati

wa da'autanii ilattaubati minhu ba'da
jiroo-atii 'alaa ma'shiyatika fa-innii
astaghfiruka faghfirlii bifadhlika

wa maa'amiltuhu fiiha mimma tardhoohu
wa wa'adtanii 'alaihits tsawaba wa

as-aluka.

Alloohumma yaa kariimu yaadzal
jalaali wal ikroomi antaqobbalahu

minnii walaa taqtho' rojaa-i minka
yaa kiriimu wa shollalloohu 'alaa sayyidinaa

muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama.

"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Semoga rahmat dan salam Allah
tetap tercurahkan kepada junjungan kami
Nabi Muhammad teriring keluarga serta sahabat beliau.

Wahai Tuhanku, apa yang hamba perbuat sepanjang
tahun ini berupa perbuatan perbuatan yang Engkau larang
hamba melakukannya, sedangkan hamba belum bertaubat dari
padanya dan Engkau tidak meridhainya dan tidak melupakannya,
dan Engkaupun telah menyayangi hamba setelah Engkaupun
kuasa untuk menyiksa hamba, kemudian Engkau menyeru
hamba untuk bertaubat setelah hamba bermaksiat kepada Engkau.
Karena itu, hamba mohon ampunan dari Engkau,
maka ampunilah hamba dengan Anugerah-Mu.


Dan apa yang telah hamba kerjakan ditahun ini
adalah berupa perbuatan yang Engkau ridhai dan
Engkau janjikan pahala atasnya, Hamba mohon pada-Mu wahai
Tuhanku, Dzat Yang Maha Mulia, yang memiliki Kebesaran
dan Kemuliaan, agar Engkau terima amalan hamba dan
jangan hendaknya Engkau putuskan harapan hamba dari-Mu,
wahai Dzat Yang Maha Mulia. Semoga rahmat dan salam Allah
tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad
teriring keluarga serta sahabat beliau."

*********



Di tahun baru 1430 H, akankah kami lebih baik lagi?...

Ya Robbi...dengan kekuatanMu lah kami dapat melakukan

segala sesuatunya...


Ya Robbi...dengarkanlah permohonan kami...

Bismillaahirohmaanirrohiim. wa shollalloohu 'alaa
sayyidinaa muhammadin wa
'alaa aalihi
wa shohbihii wa sallama.


Allohumma antal abadiyyul qodiimul awwalu wa 'alaa
fadhlikal 'adliimi wujuudikal mu'awwali
wahaadza'aamunjadiidun qod

aqbala nas-alukal 'ishmata fiihi minasysyaithooni
wa auli yaa-ihi wa junuudihi

wal 'auni 'alaa haadzihil ammaaroti bissuu-i
wal istighooli bimaa yuqorribunii

ilaika zulfa yaa dzal jallali wal ikroom.

wa shollalloohu 'alaa sayyidinaa muhammadin
wa 'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama.


"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan
kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring
keluarga serta sahabat beliau.

Wahai Tuhanku, Engkau adalah Dzat Yang Maha Kekal,
dahulu dan Awal. Hanya dengan anugrah dan kemurahan-Mu
yang agung, telah datang tahun baru. Di tahun ini kami
memohon pemeliharaan-Mu dari Syetan, kekasihnya dan
balatentaranya, dan kami memohon pertolongan-Mu atas
hawa nafsu yang mengajak kepada kejelekan, dan kami
memohon kesibukan dengan perbuatan yang dapat
mendekatkan diri kami kepada-Mu
wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.

Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan
kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring keluarga serta
sahabat beliau."

Amiin ya robbal 'alamiin...