| Jumat, 14 Agustus 2009 | |
| عَنْ سَلْمَانَ ، قَالَ : خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ Dari Salman Al Farisi r.a berkata: Rasûlullâh saw berkhutbah di Akhir bulan Sya'ban : "Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allâh swt telah menjadikan puasanya suatu fardu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’(sunnah).”
Dalam hadits lain : وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوكِهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ، وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ قلت ويأتي حديث في فضل لصوم في صوم التطوع (بغية الحارث , شعب الإيمان للبيهقي)
“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah-pen) niscaya Allâh mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.” (Bughyah Al Kharits, As Syu'ab al Iman lil Baihaqi) |
Jumat, 14 Agustus 2009
Selasa, 10 Februari 2009
Surat Imam Al-Ghazali Kepada Muridnya
Ilmu harus dimanfaatkan, dengan mengajarkan dan –yang terpenting- mengamalkannya. Imam Al-Ghazali, penulis kitab Ihya Ulumuddin, pernah mengirim surat kepada salah seorang muridnya. Melalui surat itu, Al-Ghazali ingin menyampaikan tentang pentingnya memadukan antara ilmu dan amal. Berikut petikannya.
***
Anakku…
Nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya. Karena, ia keluar dari mulut yang tidak biasa merasakan pahitnya nasihat. Sesunggunya siapa yang menerima ilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka pertanggungjawabannya akan lebih besar. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Orang yang paling berat azabnya pada hari kiamat kelak adalah orang berilmu (‘alim; ulama) yang tidak memanfaatkan ilmunya.”
Anakku…
Janganlah engkau termasuk orang yang bangkrut dalam beramal, dan kosong dari ketaatan yang sungguh-sungguh. Yakinlah, ilmu semata tak akan bermanfaat-tanpa mengamalkannya. Sebagaimana halnya orang yang memiliki sepuluh pedang Hindi; saat ia berada di padang pasir tiba-tiba seekor macan besar nan menakutkan menyerangnya, apakah pedang-pedang tersebut dapat membelanya dari serangan macan jika ia tidak menggunakannya?! Begitulah perumpamaan ilmu dan amal. Ilmu tak ada guna tanpa amal.
Anakku…
Sekalipun engkau belajar selama 100 tahun dan mengumpulkan 1000 kitab, kamu tidak akan mendapatkan rahmat Allah tanpa beramal.
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39)
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi [18]: 110)
Anakku…
Selama tidak beramal, engkau pun tidak akan mendapatkan pahala. Ali Karramallahu wajhahu berkata, “Siapa yang mengira dirinya akan sampai pada tujuan tanpa sungguh-sungguh, ia hanyalah berangan-angan. Angan-angan adalah barang dagangan milik orang-orang bodoh.
Al-Hasan Al-Basri rahimahullah berkata, “Meminta surga tanpa berbuat amal termasuk perbuatan dosa.”
Dalam sebuah khabar, Allah SWT berfirman, “Sungguh tak punya malu orang yang meminta surga tanpa berbuat amal.”
Rasulullah saw bersabda, “Orang cerdas ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya dan berbuat untuk setelah kematian. Dan orang bodoh ialah siapa yang memperturut hawa nafsunya dan selalu berangan-angan akan mendapatkan ampunan Allah.”
Anakku…
Hiduplah semaumu, karena pada hakikatnya engkau itu mayit. Cintailah sesukamu, karena pasti engkau akan meninggalkannya. Dan, lakukanlah amal karena pasti engkau akan diberi balasan.
Ilmu tanpa amal adalah gila. “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah [02]: 44).
Dan, amal tanpa ilmu adalah sia-sia. Keduanya harus dipadukan satu sama lain.
Ilmu semata tak akan menghindarkanmu dari maksiat hari ini, dan tidak pula dapat menyelamatkanmu dari siksa neraka di hari esok. Jika hari ini kamu tidak sungguh-sungguh beramal, maka pada hari kiamat kelak engkau akan berkata, “Kembalikanlah kami (ke dunia) agar dapat melakukan amal salih.” Namun, dijawab, “Hei kamu, bukankah kamu telah dari sana?!”
***
“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yasin [36]: 54)
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kepada kita ilmu yang berkah dan kemampuan untuk merealisasikan ilmu-ilmu yang telah Dia anugerahkan kepada kita. Amin…. (M. Yusuf Shandy- - -Lihat kitab Ma'allah karya Muhammad Al-Ghazali)
EMPAT ISTRI
Dia mencintai istrinya yang keempat dan menganugrahinya harta & kesenangan yang banyak. Sebab dialah yang tercantik diantara semua istrinya. Pria ini selalu memberikan yang terbaik untuk istri keempatnya ini.
Pedagang itu juga mencintai istirinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan istrinya ini dan selalu memperkenalkan wanita ini kepada teman-temannya. Namun, ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini akan lari dengan pria yang lain.
Begitu juga dengan istri kedua, ia pun sangat menyayukainya. Ia adalah istri yang sabar dan pengertian. Kapanpun pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pertimbangan istrinya ini. Dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya melewati masa-masa yang sulit.
Sama halnya dengan istri yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dia lah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha sangsuami. Akan tetapi, sang pedagang, tak begitu mencintainya. Walaupun sang istri pertama ini begitu sayang padanya, namun, pedagang ini tak begitu mempedulikannya.
Suatu ketika, si pedagang sakit. Lama kemudian, ia menyadari, bahwa ia akan segera meninggal. Dia meresapi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati, “Saat ini, aku punya 4 orang istri. Namun, saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.”
Lalu, ia meminta semua istrinya datang, dan kemudian mulai bertanya pada istri keempatnya. “Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah, sekarang, aku akan mati, maukah kau mendampingiku dan menemaniku?” Ia terdiam,“Tentu saja tidak..“, jawab istri keempat, dan pergi begitu saja tanpa berkata-kata lagi.
Jawaban itu sangat menyakitkan hati. Seakan-akan, ada pisau yang terhunus dan mengiris-iris hatinya.
Pedagang yang sedih itu lalu bertanya pada istri ketiga. “Akupun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku? ” Istrinya menjawab, “Hidup begitu indah disini. Aku akan menikah lagi jika kau mati.” Sang pedagang begitu terpukul dengan ucapan ini. Badannya mulai merasa demam.
Lalu, ia bertanya pada istri keduanya. “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mau membantuku. Kini, aku butuh sekali pertolonganmu. Kalau ku mati, maukah kau ikut dan mendampingiku?” Sang istri menjawab pelan. “Maafkan aku,” ujarnya “Aku tak bisa menolongmu kali ini. Aku hanya bisa mengantarmu hingga ke liang kubur saja.. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu.” Jawaban itu seperti kilat yang menyambar. Sang pedagang kini merasa putus asa.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara, “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu.” Sang pedagang lalu menoleh ke samping, dan mendapati istri pertamanya disana. Dia tampak begitu kurus. Badannya tampak seperti orang yang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja, aku bisa merawatmu lebih baik saat ku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini, istriku.”
Sahabtaku, sesungguhnya kita punya empat orang istri dalam hidup ini. Istri yang keempat, adalah tubuh kita. Seberapapun banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera kalau kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.
Istri yang ketiga, adalah status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah, dan melupakan kita yang pernah memilikinya.
Sedangkan istri yang kedua, adalah kerabat dan teman-teman. Seberapapun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan bisa bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.
Dan, teman, sesungguhnya, istri pertama kita adalah jiwa dan amal kita. Mungkin, kita sering mengabaikan, dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan pribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita di akhirat kelak.
Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari.
Diposkan oleh jifasmart di 04:12
Label: Empat Istri
Senin, 29 Desember 2008
Puasa Muharram

by Ustadz. Yusuf Mansyur
Aslinya, puasa Muharram itu tanggal 10 ('Asyura). Ada Yahudi yang berpuasa, ditanya Rasul, "Mengapa engkau berpuasa pada hari ini?". "Pada hari ini Musa diselamatkan oleh Allah dari Fir'aun...", dan Yahudi itu menyebut lagi beberapa peristiwa penting di bulan Muharram. "Maka kami berpuasa untuk mensyukurinya".
Rasululllah lalu bersabda, "Kalau begitu, kami lebih berhak untuk berpuasa...". Dan untuk membedakan dengan Yahudi, Rasulullah bersabda lagi, "Andai aku masih hidup tahun depan, maka aku akan berpuasa juga di tanggall 9 nya (Tasu'ah)". Sesiapa yang tidak bisa di tanggal 9 nya, maka gantikan di tanggal 11 nya.
'Ulama-ulama salaf banyak juga yang kemudian berpuasa sebulan penuh malahan untuk menghormati Muharram, dan inipun menjadi syari'atnya. Sesiapa yg berdoa di saat puasa, maka ia akan dikabulkan Allah tanpa hijab. Apalagi ada janji Allah lewat Rasul-Nya, sesiapa yg berpuasa 1 hari di bulan ini, maka Allah akan mengampuni dosanya selama tahun yang terlewati, dan 1 hari puasa di Muharram setara dengan 30hr berpuasa.
SELAMAT TAHUN BARU 1430H. Semoga Allah meridhai ikhtiar kita di tahun ini, memberikan keselamatan, memberikan ampunan, menambah iman, islam dan ketakwaan kita, menambah amal saleh dan mengistiqamahkan ibadah kita.
(Ust.Yusuf Mansur.)
Jumat, 26 Desember 2008
Kalaulah Bukan Karena Allah Menutupi Aib-Aib Kita

Alhamdulillah, wash shalaatu wassalaamu ‘ala nabiyyinaa Muhammad,
wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa man tabi’ahum bi ihsaan, wa ba’d.
Pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka.
Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami.”
Maka berangkatlah Musa ‘alaihis salam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang.
Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu,
haus dan lapar.
Nabi Musa berdoa, “Ilaahi! Asqinaa ghaitsak…. Wansyur ‘alaina rahmatak… warhamnaa bil athfaal ar rudhdha’… wal bahaaim ar rutta’… wal masyaayikh ar rukka’…..”
Setelah itu langit tetap saja terang benderang… matahari pun bersinar makin kemilau… (maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul).
Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Ilaahi … asqinaa….”
Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian…”
Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun… keluarlah ke hadapan kami…. karena engkaulah hujan tak kunjung turun…”
Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri… maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia… saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud…..
Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku… Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”
Maka hatinya pun gundah gulana… air matanya pun menetes….. menyesali perbuatan maksiatnya… sambil berkata lirih, “Ya Allah… Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun… selama itu pula Engkau menutupi ‘aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku…”
Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan… semakin lama semakin tebal menghitam… dan akhirnya turunlah hujan.
Musa pun keheranan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.”
Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.”
Musa berkata, “Ya Allah… Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.”
Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka ‘aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!”
(Kisah ini dikutip dari buku berjudul “Fii Bathni al-Huut” oleh Syaikh DR. Muhammad Al ‘Ariifi, hal. 42)
...........Ya Robbi....begitu banyak aib-aib hamba, dan dengan kebesaranMu sajalah...Engkau tutupi semuanya.."Robbana zolamna anfusana waillamtaghfirlana watarhamna lana kunanna minal khosyiriin"
(danmadhann)
Renungan Menyongsong Tahun Baru Hijriah 1430

Waktu yang sekarang sedang kita jalani berkaitan erat dengan masa lalu yang telah kita lewati.
Dan Masa yang akan datang bergantung dengan apa yang sedang kita kerjakan pada saat ini.
Tahun 1430 H datang menyongsong....Tahun 1429 H telah beranjak meninggalkan kita...
bagaimanakah hidup dan kehidupan kita di Tahun 1429 H?....
Bagaimanakah amal ibadah kita di tahun kemarin ?
Akankah 1430 H akan jadi lebih baik lagi bagi hidup dan kehidupan kita ?
besar manakah ketaatan dengan kemaksiatan ?
besar manakah amal ibadah kita dengan
pembangkangan terhadapNya ?
Ya Robbi....Yang Maha Mendengar, tersirat
maupun tersurat, yang zohir ataupun yang batin...
Bismillaahirrahmaanirraahiim,
wa shollalloohu'alaa sayyididinaa muhammaadin
wa'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama,
Alloohumma maa'amiltu fii hadzihis sanati
mimmaa nahaitanii'anhu falam atub minhu
wa lam tardhohu wa lam tansahu wa hamiltu
'alayya ba'da qudrotika 'uquubati
wa da'autanii ilattaubati minhu ba'da
jiroo-atii 'alaa ma'shiyatika fa-innii
astaghfiruka faghfirlii bifadhlika
wa maa'amiltuhu fiiha mimma tardhoohu
wa wa'adtanii 'alaihits tsawaba wa
as-aluka.
Alloohumma yaa kariimu yaadzal
jalaali wal ikroomi antaqobbalahu
minnii walaa taqtho' rojaa-i minka
yaa kiriimu wa shollalloohu 'alaa sayyidinaa
muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama.
"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Semoga rahmat dan salam Allah
tetap tercurahkan kepada junjungan kami
Nabi Muhammad teriring keluarga serta sahabat beliau.
Wahai Tuhanku, apa yang hamba perbuat sepanjang
tahun ini berupa perbuatan perbuatan yang Engkau larang
hamba melakukannya, sedangkan hamba belum bertaubat dari
padanya dan Engkau tidak meridhainya dan tidak melupakannya,
dan Engkaupun telah menyayangi hamba setelah Engkaupun
kuasa untuk menyiksa hamba, kemudian Engkau menyeru
hamba untuk bertaubat setelah hamba bermaksiat kepada Engkau.
Karena itu, hamba mohon ampunan dari Engkau,
maka ampunilah hamba dengan Anugerah-Mu.
Dan apa yang telah hamba kerjakan ditahun ini
adalah berupa perbuatan yang Engkau ridhai dan
Engkau janjikan pahala atasnya, Hamba mohon pada-Mu wahai
Tuhanku, Dzat Yang Maha Mulia, yang memiliki Kebesaran
dan Kemuliaan, agar Engkau terima amalan hamba dan
jangan hendaknya Engkau putuskan harapan hamba dari-Mu,
wahai Dzat Yang Maha Mulia. Semoga rahmat dan salam Allah
tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad
teriring keluarga serta sahabat beliau."
*********
Di tahun baru 1430 H, akankah kami lebih baik lagi?...
Ya Robbi...dengan kekuatanMu lah kami dapat melakukan
segala sesuatunya...
Ya Robbi...dengarkanlah permohonan kami...
Bismillaahirohmaanirrohiim. wa shollalloohu 'alaa
sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihi
wa shohbihii wa sallama.
Allohumma antal abadiyyul qodiimul awwalu wa 'alaa
fadhlikal 'adliimi wujuudikal mu'awwali
wahaadza'aamunjadiidun qod
aqbala nas-alukal 'ishmata fiihi minasysyaithooni
wa auli yaa-ihi wa junuudihi
wal 'auni 'alaa haadzihil ammaaroti bissuu-i
wal istighooli bimaa yuqorribunii
ilaika zulfa yaa dzal jallali wal ikroom.
wa shollalloohu 'alaa sayyidinaa muhammadin
wa 'alaa aalihi wa shohbihii wa sallama.
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan
kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring
keluarga serta sahabat beliau.
Wahai Tuhanku, Engkau adalah Dzat Yang Maha Kekal,
dahulu dan Awal. Hanya dengan anugrah dan kemurahan-Mu
yang agung, telah datang tahun baru. Di tahun ini kami
memohon pemeliharaan-Mu dari Syetan, kekasihnya dan
balatentaranya, dan kami memohon pertolongan-Mu atas
hawa nafsu yang mengajak kepada kejelekan, dan kami
memohon kesibukan dengan perbuatan yang dapat
mendekatkan diri kami kepada-Mu
wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.
Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan
kepada junjungan kami Nabi Muhammad teriring keluarga serta
sahabat beliau."
Amiin ya robbal 'alamiin...
Kamis, 25 Desember 2008
Penyakit Hati

Hati itu dapat hidup dan dapat mati, sehat dan sakit. Dalam hal ini, ia lebih penting dari pada tubuh.
Allah SWT berfirman, artinya:
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya." (Al-An`am : 122)
Artinya, ,,,,ia mati karena kekufuran, lalu Kami hidupkan kembali dengan keimanan. Hati yang hidup dan sehat, apabila ditawari kebatilan dan hal-hal yang buruk, dengan tabi`at dasarnya ia pasti menghindar, membenci dan tidak akan menolehnya. Lain halnya dengan hati yang mati. Ia tak dapat membedakan yang baik dan yang buruk.
Dua Bentuk Penyakit Hati:
Penyakit hati itu ada dua macam:
1. Penyakit syahwat
2. penyakit syubhat.
Keduanya tersebut dalam Al-Qur`an.
Allah berfirman: "Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melembut-lembutkan bicara) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. " (Al-Ahzab:32)
Ini yang disebut penyakit syahwat.
Allah juga berfirman, artinya:
"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya..."(Al-Baqarah : 10)
Allah juga berfirman:
"Dan adapun orang yang didalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada)." (At-Taubah : 125)
Penyakit di sini adalah penyakit syubhat. Penyakit ini lebih parah daripada penyakit syahwat. Karena penyakit syahwat masih bisa diharapkan sembuh, bila syahwatnya sudah terlampiaskan. Sedangkan penyakit syubhat, tidak akan dapat sembuh, kalau Allah tidak menanggulanginya dengan limpahan rahmat-Nya.
Seringkali penyakit hati bertambah parah, namun pemiliknya tak juga menyadari. Karena ia tak sempat bahkan enggan mengetahui cara penyembuhan dan sebab-sebab (munculnya) penyakit tersebut.
Bahkan terkadang hatinya sudah mati, pemiliknya belum juga sadar kalau sudah mati. Sebagai buktinya, ia sama sekali tidak merasa sakit akibat luka-luka dari berbagai perbuatan buruk. Ia juga tak merasa disusahkan dengan ketidak mengertian dirinya terhadap kebenaran, dan keyakinan-keyakinannya yang batil.
"Luka, tak akan dapat membuat sakit orang mati." Terkadang ia juga merasakan sakitnya. Namun ia tak sanggup mencicipi dan menahan pahitnya obat. Masih bersarangnya penyakit tersebut di hatinya, berpengaruh semakin sulit dirinya menelan obat.
Karena obatnya dengan melawan hawa nafsu. Itu hal yang paling berat bagi jiwanya. Namun baginya, tak ada sesuatu yang lebih bermanfaat dari obat itu. Terkadang, ia memaksa dirinya untuk bersabar. Tapi kemudian tekadnya mengendor dan bisa meneruskannya lagi. Itu karena kelemahan ilmu, keyakinan dan ketabahan.
Sebagai halnya orang yang memasuki jalan angker yang akhirnya akan membawa dia ke tempat yang aman. Ia sadar, kalau ia bersabar, rasa takut itu sirna dan berganti dengan rasa aman. Ia membutuhkan kesabaran dan keyakinan yang kuat, yang dengan itu ia mampu berjalan. Kalau kesabaran dan keyakinannya mengendor, ia akan balik mundur dan tidak mampu menahan kesulitan. Apalagi kalau tidak ada teman, dan takut sendirian.
Menyembuhkan Penyakit Dengan Makanan Bergizi dan Obat:
Gejala penyakit hati adalah, ketika ia menghindari makanan-makanan yang bermanfaat bagi hatinya, lalu menggantinya dengan makanan-makanan yang tak sehat bagi hatinya. Berpaling dari obat yang berguna, menggantinya dengan obat yang berbahaya. Sedangkan makanan yang paling berguna bagi hatinya adalah makanan iman. Obat yang paling manjur adalah Al-Qur`an masing-masing memiliki gizi dan obat. Barangsiapa yang mencari kesembuhan (penyakit hati) selain dari Al-kitab dan As-sunnah, maka ia adalah orang yang paling bodoh dan sesat.
Sesungguhnya Allah berfirman:
"Katakanlah: "Al-qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat jauh." (Fushshilat : 44)
Al-qur`an adalah obat sempurna untuk segala penyakit tubuh dan hati, segala penyakit dunia dan akherat. Namun tak sembarangan orang mahir menggunakan Al-qur`an sebagai obat. Kalau si sakit mahir menggunakannya sebagai obat, ia letakkan pada bagian yang sakit, dengan penuh pembenaran, keimanan dan penerimaan, disertai dengan keyakinan yang kuat dan memenuhi syarat-syaratnya.
Tak akan ada penyakit yang membandel. Bagaimana mungkin penyakit itu akan menentang firman Rabb langit dan bumi; yang apabila turun di atas gunung, gunung itu akan hancur, dan bila turun di bumi, bumi itu akan terbelah? Segala penyakit jasmani dan rohani, pasti terdapat dalam Al-qur`an cara memperoleh obatnya, sebab-sebab timbulnya dan cara penanggulangannya. Tentu bagi orang yang diberi kemampuan mamahami kitab-Nya.
wallahu'alam

